Popular Post

Popular Posts

Posted by : Machsada Sunday, January 4, 2015

SYAIR KERAJAAN TIKUS
satirisme pejabat tikus rakyat

I
Tersebut didalam suatu cerita,
terjadi di negeri antah berantah,
terjadi dizaman sangat baheula,
tentang kerakusan sangat tercela.

Inilah kisah kerajaan tikus,
rajanya gagah, gemuk, dan rakus,
bau memancar seperti kakus,
walau badannya sudah dibungkus.

Kerajaan punya banyak aturan,
tak ada bagian yang terlewatkan,
dari yang pribadi sampai kerjaan,
juga kehakiman dan kejaksaanz

II
Binatang lain memandang aneh,
banyak sekali kerja nyeleneh,
dari yang rumit sampai yang remeh,
ditempat sepi ataupun rame.

Golongan tikus banyak berpartai,
ngomongnya banyak sambil bertikai,
rapat habisi makan bertangkai-tangkai,
tapi hasilnya?.....tidak terpakai.

Itulah tikus yang sedang rapat,
suaranya riuh menciat-ciat,
bergerak gaduh ke timur barat,
Dasar!....binatang pengerat.

III
Rajapun punya banyak menteri,
setiap golongan pasti diberi,
peduli pengerat atau pengiri,
yang penting aman raja sendiri.

Rajanya sangat senang bersolek,
didepan kaca berbolak-balek,
rambutnya rapi bajunya molek,
ngomongnya...bak dalang wayang golek.

Tutur katanya sangat dijaga,
kalau bicara bisa diduga,
bersama istri serta penjaga,
bersama menteri seringlah juga.

IV
Di negeri tikus komite banyak,
disana berkumpul tukang teriak,
berkumpul juga para pembalak,
hebatnya...?ada pula mantan pembajak.

Setiap hari kerjanya rapat,
idenya tinggi melompat-lompat,
belumlah dua langsung ke empat,
kalau dibantah langsung mengumpat.

Ada pula yang jadi aparat,
dari golongan tikus pengerat,
bongkar korupsi sampai ke urat,
ternyata masih juga kena jerat.

V
Di negeri tikus banyak yang ganjil,
jalanan rusak banyak dicungkil,
tembok dijebol memakai martil,
ATK kantor?banyak diambil.

Apalah lagi adminstrasi,
kertas dimakan seperti nasi,
begitu juga soal kontruksi
semen dilahap bersama besi.

Katanya tinggal dihutan subur,
rakyatnya miskin makannya bubur,
banyak betina jadi pengibur,
ataupun mati tiada berkubur.

VI
Berbeda lagi si tikus hutan,
berbolak-balik seperti setan,
terutama yang urusi deptan,
ternyata...ikut selundupkan rotan.

Karena kerajaan di hutan tropis,
urusan tani jadi strategis,
si tikus sawah menyusun basis,
proyek didapat teman sebaris.

Si tikus kota tidak bertugas berat,
karena sekolahnya dulu di barat,
jabatannya tinggi jadi penasehat,
yang sangat piawai kalau berdebat.

VII
Ada yang khusus di kerajaan tikus,
jadi apapun haruslah rakus,
bermodal dengkul dapat seratus,
sebagai jasa karena mengurus.

Dasar memang tikus pengerat,
banyak sedikit yang penting dapat,
peduli apa rakyat melarat,
terserah saja negeri sekarat.

Apalah lagi yang dekat raja,
bisa minta berapapun saja,
untuk pelicin setiap meja,
habis separuh?...ah biasa saja.

VIII
Di kerajaan juga ada palemen,
golongan tikus banyak komponen,
dipilih rakyat di musim panen,
elit sekaleee...dan juga keren.

Para anggota rajin berkumpul,
ada yang cerdas ada yang tumpul,
ada yang keriting ada pula yang gundul,
pokoknya.....amburaduuuuuul.

Kerjanya sungguh enak sekali,
cuma omong dan umbar janji,
setiap tikus dapat mobil sebiji,
dan parahnya?...masih minta naik gaji.

IX
Setiap tahun wakil berkumpul,
membahas sawah mau digundul,
sambil berfikir gimana ngibul,
itulah kalau perutnya gembuuuuul.

Ada pula yang teriak-teriak,
bagaikan lakon panggung ketoprak,
kawan-kawannya bersorak-sorak,
saking semangatnya?ada yang terberak.

Ada pula yang enak tidur,
sambil ngorok kaki terjulur,
tak sadar sampai meleleh liur,
parahnya lagi?...sempat pula ngelindur.

X
Setiap sarang ada bupati,
kuasanya hebat setengah mati,
pegawai harus pintar ambil hati,
supaya dikasih beras sepeti.

Bupati tikus banyak yang pongah,
merasa diri selalu gagah,
mobilnya bagus rumahnya megah,
kemana-mana bawa penjaga.

Kalaulah habis masa kuasa,
diganti istri anakpun bisa,
asalkan banyak emas suasa,
dan pandai pula cakap berbusa.

XI
Janganlah lupa tikus pebisnis,
mobilnya baru serta kelimis,
wajahnya tampan dihias kumis,
kalau bicara mulutnya manis.

Datang ke raja membungkuk-bungkuk,
saking bungkuknya seperti duduk,
kalau bicara sambil menunduk,
dasar...licik kayak pelanduk.

Bawa proposal tebal sebantal,
padahal yang bikin si tukang rental,
merengek-rengek membikin kesal,
cuma itulah ternyata modal.

XII
prihatin tikus pengumpul padi,
sore mengerat sampai ke pagi,
habis bekerja?bekerja lagi,
sampai ompoonggg semua gigi.

Itulah kalau tikus serakah,
diatas lumbung raja bertakhta,
sambil mengerat mana yang suka,
rakyat kelaparan?...pura-pura buta.

Para menteri juga punya lumbung,
amalkan ilmu si aji mumpung,
pundi-pundinya penuh menggelembung,
tuk turunan sambung menyambung.

XIII
Tengoklah pula dikantor-kantor,
fisiknya bagus lakunya kotor,
yang kecil harus rajin menyetor,
pada atasan atau supervisor.

Si Raja tikus sering teriak,
untuk berantas sistem yang rusak,
tapi semua berpura pekak,
sambil mengangguk berpurak-purak.

Binatang luar banyak yang heran,
potensi hutan banyak berlimpahan,
tapi rakyatnya tetap kelaparan,
dan tidur diemper beralas koran.

XIV
Terdapat juga tikus baik,
ingatkan sebelum kerajaan terbalik,
tapi?malah akan kecelik,
dituduh teroris dijeruji bilik.

Ada pula si tikus korban,
dengan pejabat sama-sama makan,
awalnya kawan sebelum ketahuan,
terbuka busuk minggat jadi imigran.

Kini semua tikus blingsatan,
parahnya negeri bak lingkaran setan,
hutang menumpuk sebanyak lautan,
korupsi mengganas tak bisa disebutkan.

XV
Dengarlah kata pahlawan tikus,
ciri-ciri kerajaan yang akan hangus,
keadilan banyak yang terberangus,
maksiat subur bagaikan humus.

Apapun dihutan akan dikerat,
yang rusak ringan maupun berat,
yang ada timur atau dibarat,
yang ada dilaut atau didarat.

Tikus yang kaya semakin kaya,
yang miskin makin tidak berdaya,
yang kuasa akan tambah berjaya,
yang lemah selalu teraniaya.

XVI
Sangatlah mahal bangun infrastruktur,
baru sebentar sudah hancur,
direhab lagi dana mengucur,
tak sudah-sudah sampai ke kubur.

Tengoklah pula tikus dikota,
Rumah yang mewah megah tertata,
berdekatan dengan gubuk derita,
yah...apalah lagi mau dikata.

Itulah kalau kerajaan timpang,
uang dipakai untuk menimbang.,
apapun bisa dibuat dagang.
asal sesuai irama gendang.

XVII
Syairku ini bagai guyonan,
tapi tersirat banyak ajaran,
dilihat sendiri yang dilapangan,
atau informasi dari teman.

Kerajaan tikus menjelang hancur,
semua aspek berjalan mundur,
segalanya makin tidak teratur,
tinggallah kita sedih menekur.

Wahai kawan kita mulai,
bermula dari diri sendiri,
marilah kita sadarkan diri,
agar tak murka Sang Maha Pemberi.

XVIII
Hidup di dunia hanya sebentar,
malaikat maut tak pernah gentar,
tak bisa disogok atau dibayar,
tak pula bisa tawar menawar.

Wahai sahabat pencinta syair,
hidup di dunia bagai musafir,
hanya sebentar akan berakhir,
dikubur dipalu munkar dan nakir.

Terhadap harta kita ditanya,
didapat dari jalan yang mana,
dipakai apa manfaat guna,
dipertanggungjawabkan dengan sempurna.

Inderalaya, 2014
Al Faqiir Hamdi Ahsan

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © DAYAK BANJAR - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Machsada Edogawa -